Wah! Bisa Lihat Menara Eiffel dan Kota Paris di China
Desi Puspasari - d'traveler - Jumat, 11/01/2013 16:30 WIB
Hangzhou - Tak harus pergi jauh ke daratan
Eropa untuk meliha Menara Eiffel dan keindahan Paris di Prancis. Asia
juga punya 'Paris' di dekat Hangzhou, China. Kerennya, destinasi ini
juga dilengkapi dengan landmark khas Kota Paris.
Predikat China yang mahir membuat tiruan benda, tidak diragukan lagi. Bahkan negara ini bisa membawa 'Kota Paris' ke pesisir Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China. Destinasi ini dinamakan Tianducheng.
Tianducheng dibuat oleh perusahaan real estate, Zhejiang Guangsha Co Ltd, pada tahun 2007. Butuh waktu lima tahun untuk menciptakan lanskap cantik ala Paris seluas 19 km2.
Pembuatan mini Paris ini ditujukan agar penduduk China dan wisatawan, dapat kesempatan menikmati keindahan Paris tanpa harus menempuh jarak ribuan mil. Melansir situs Habitables, Jumat (11/1/2013), lokasi memiliki Menara Eiffel, Arc de Triomphe, dan vila bergaya Eropa yang mengelilingi sebuah taman bergaya Paris.
Menurut Lu Xiaotian, Direktur Zhejiang Guangsha Co Ltd, "Terdapat 10.000 rumah nyaman yang bisa ditempati oleh masyarakat." Selain itu, Tianducheng juga dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, seperti sekolah, country club, dan rumah sakit.
Masyarakat kelas atas di China, memang suka bulan madu, fesyen, menikmati wine di Paris, dan semua hal yang berkaitan dengan kota romantis itu. Tak taggung-tanggung, semua landmark kota tersebut pun disajikan dengan sangat mirip.
Anda bisa merasakan kesegaran dari replika Bassin de Laton, air mancur yang ada di Taman Istana Versailles. Sedangkan, Menara Eiffel Tianducheng dan Paris hanya berbeda tingginya saja. Kalau Menara Eiffel di Tianducheng memiliki tinggi 108 m, sedangkan di Paris tingginya mencapai 324 m.
Predikat China yang mahir membuat tiruan benda, tidak diragukan lagi. Bahkan negara ini bisa membawa 'Kota Paris' ke pesisir Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China. Destinasi ini dinamakan Tianducheng.
Tianducheng dibuat oleh perusahaan real estate, Zhejiang Guangsha Co Ltd, pada tahun 2007. Butuh waktu lima tahun untuk menciptakan lanskap cantik ala Paris seluas 19 km2.
Pembuatan mini Paris ini ditujukan agar penduduk China dan wisatawan, dapat kesempatan menikmati keindahan Paris tanpa harus menempuh jarak ribuan mil. Melansir situs Habitables, Jumat (11/1/2013), lokasi memiliki Menara Eiffel, Arc de Triomphe, dan vila bergaya Eropa yang mengelilingi sebuah taman bergaya Paris.
Menurut Lu Xiaotian, Direktur Zhejiang Guangsha Co Ltd, "Terdapat 10.000 rumah nyaman yang bisa ditempati oleh masyarakat." Selain itu, Tianducheng juga dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, seperti sekolah, country club, dan rumah sakit.
Masyarakat kelas atas di China, memang suka bulan madu, fesyen, menikmati wine di Paris, dan semua hal yang berkaitan dengan kota romantis itu. Tak taggung-tanggung, semua landmark kota tersebut pun disajikan dengan sangat mirip.
Anda bisa merasakan kesegaran dari replika Bassin de Laton, air mancur yang ada di Taman Istana Versailles. Sedangkan, Menara Eiffel Tianducheng dan Paris hanya berbeda tingginya saja. Kalau Menara Eiffel di Tianducheng memiliki tinggi 108 m, sedangkan di Paris tingginya mencapai 324 m.
Keindahan Tianducheng pun akhirnya menarik perhatian turis domestik dan
internasional. Banyak pula dari mereka yang menjadikan kota ini sebagai
surga fotografi, mulai dari sekadar hunting sampai foto pernikahan.
Ini bukan kali pertama China membuat replika sebuah kota. Sebelumnya di tahu 2006, China membuat Thames Town dengan rumah bergaya Georgia dan Victoria. Tidak hanya itu, Italia dan Jerman berhasil juga 'dipindahkan' ke China.
Belum lama ini, juga terdengar China berencana membuat Dorchester. Ini adalah sebuah desa di Boston yang menginspirasi seorang novelis, Thomas Hardy. Ternyata replika salah satu kota di Australia juga dibuat di Provinsi Guangdong.
Ingin berlibur ke Eropa, tapi bujet belum memenuhi? Tak salah bila Anda memilih China sebagai destinasi tujuan terlebih dahulu.
Ini bukan kali pertama China membuat replika sebuah kota. Sebelumnya di tahu 2006, China membuat Thames Town dengan rumah bergaya Georgia dan Victoria. Tidak hanya itu, Italia dan Jerman berhasil juga 'dipindahkan' ke China.
Belum lama ini, juga terdengar China berencana membuat Dorchester. Ini adalah sebuah desa di Boston yang menginspirasi seorang novelis, Thomas Hardy. Ternyata replika salah satu kota di Australia juga dibuat di Provinsi Guangdong.
Ingin berlibur ke Eropa, tapi bujet belum memenuhi? Tak salah bila Anda memilih China sebagai destinasi tujuan terlebih dahulu.
Johanes Randy - detikTravel - Selasa, 03/02/2015 08:21 WIB
Huizhou - Soal tiru-meniru, China bisa jadi
adalah jagonya. Tidak hanya bisa meniru barang branded, China bahkan
bisa meniru desa di Austria dan membuat replikanya di Huizhou. Walau
mirip, tapi tetap saja 'made in China.'
Setelah sebelumnya memicu kontroversi karena meniru Kota Paris, kini China kembali meniru salah satu ikon wisata di Austria. Dilansir oleh detikTravel dari Reuters, Selasa (3/2/2015) sekarang giliran desa cantik Hallstatt di Austria yang dibuat replikanya.
Proyek yang menghabiskan dana hingga USD 940 juta, atau hampir 12 triliun rupiah tersebut, menghasilkan Desa Hallstatt di Austria yang sama persis di Huizhou, Provinsi Guangdong. Upaya tersebut menunjukkan betapa ambisiusnya China.
Setelah sebelumnya memicu kontroversi karena meniru Kota Paris, kini China kembali meniru salah satu ikon wisata di Austria. Dilansir oleh detikTravel dari Reuters, Selasa (3/2/2015) sekarang giliran desa cantik Hallstatt di Austria yang dibuat replikanya.
Proyek yang menghabiskan dana hingga USD 940 juta, atau hampir 12 triliun rupiah tersebut, menghasilkan Desa Hallstatt di Austria yang sama persis di Huizhou, Provinsi Guangdong. Upaya tersebut menunjukkan betapa ambisiusnya China.
Tidak tanggung-tanggung, replika Hallstatt di Huizhou juga turut
menyertakan replika menara jam gereja yang merupakan ikon utama
Hallstatt. Luar biasanya lagi, Hallstatt versi China juga dibuat di tepi
danau, seperti desa aslinya di Austria.
Salah satu pengunjung yang bernama Zhu Bin mengatakan, ketika melangkah di tempat tersebut, rasanya seperti berada di Eropa. Semua rumah yang ada di desa replika Hallstatt juga dibuat bergaya Eropa, dengan pelataran yang luas.
Proyek ambisius yang diadakan oleh salah satu pengembang migas kenamaan China tersebut sempat menimbulkan kemarahan penduduk Hallstatt yang asli. Masyarakat Hallstatt tentu tidak rela jika desa mereka yang indah dibuat tiruannya.
Salah satu pengunjung yang bernama Zhu Bin mengatakan, ketika melangkah di tempat tersebut, rasanya seperti berada di Eropa. Semua rumah yang ada di desa replika Hallstatt juga dibuat bergaya Eropa, dengan pelataran yang luas.
Proyek ambisius yang diadakan oleh salah satu pengembang migas kenamaan China tersebut sempat menimbulkan kemarahan penduduk Hallstatt yang asli. Masyarakat Hallstatt tentu tidak rela jika desa mereka yang indah dibuat tiruannya.
Namun, perlahan sikap masyarakat Austria mulai melunak. Pemerintah
setempat di Hallstatt meihat adanya peluang usaha di salah satu negara
yang terkenal akan pertumbuhannya yang cepat.
Kemudian, Walikota Hallstatt, Alexander Scheutz, beserta perwakilan
delegasi Austria pun datang ke Guangdong pada saat peresmiannya tahun
2012 silam. Bersama dengen Pemerintah China, Alexander menendatangani
perjanjian kerjasama.
Kenyataannya, pada tahun 2005 hanya ada sekitar 50 turis China yang berkunjung ke Hallstatt di Austria. Namun setelah replika Hallstatt di China dibuka, jumlah kunjungan turis China ke Hallstatt malah meningkat jadi ribuan setiap tahunnya.
Desa Hallstatt di Guangdong dapat ditempuh selama setengah jam perjalanan dari Kota Huizhou. Pemerintah China berharap agar desa wisata Hallstatt yang merupakan replika tersebut, dapat menjadi salah satu atraksi turis yang baru.
Membicarakan Hallstatt di Austria, ternyata ada gereja tengkorak di sana. Gereja unik tersebut memajang ribuan tengkorak dan tulang manusia. Klik di sini untuk berita lengkapnya.
Kenyataannya, pada tahun 2005 hanya ada sekitar 50 turis China yang berkunjung ke Hallstatt di Austria. Namun setelah replika Hallstatt di China dibuka, jumlah kunjungan turis China ke Hallstatt malah meningkat jadi ribuan setiap tahunnya.
Desa Hallstatt di Guangdong dapat ditempuh selama setengah jam perjalanan dari Kota Huizhou. Pemerintah China berharap agar desa wisata Hallstatt yang merupakan replika tersebut, dapat menjadi salah satu atraksi turis yang baru.
Membicarakan Hallstatt di Austria, ternyata ada gereja tengkorak di sana. Gereja unik tersebut memajang ribuan tengkorak dan tulang manusia. Klik di sini untuk berita lengkapnya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar